Pages

Sabtu, 15 November 2014

Film-film Sederhana Dengan Tema Coming of Age

Ada cita rasa tersendiri ketika menonton film sederhana dengan tokoh utama anak-anak dan remaja labil. Sedikit mengingatkan tentang masa-masa kecil dulu, konflik dengan sahabat, keluarga, awal mengenal cinta dan monyet(nya elu) seakan tidak habis diangkat menjadi sebuah cerita yang asik dinikmati. Tidak mewah, tidak dipenuhi dialog filosophi dan metafora, tapi mampu menyampikan pesan tanpa kesan menggurui. Berikut beberapa film menarik yang bisa kalian coba…

1.       The Way, Way Back (2013)
Saya sempat mengacuhkan beberapa film indie yang berlalu lalang di ganool. Kualitas secukupnya dengn budget sedikit, apa menariknya? Hingga  ada sebuah pepatah di blog yang pernah saya baca: “kamu gak mungkin bilang bakso lebih enak daripada soto, sementara kamu belum makan soto”, dan saya mulai mencicipi seperti apa itu film indie.

 Duncan(Liam James) seorang remaja introvert umur 14 tahun belibur di sebuah rumah pantai bersama ibu, pacar ibunya beserta anaknya perempuannya. Tapi dia tidak meraskan kenyamanan dalam keluarga barunya tersebut, terlebih pacar ibuny(Steve Carel) yang selalu memandang  Duncan sebelah mata bahkan member nilai 3 dari 10. Ditengah situasi yang membosankn tersebut Duncan berkenalan dengan seorang pria yang berkerja di sebuah water park “Water Wiz”. Disana dia mendapatkan kenyamanan, kenyamanan yang tidak dia dapatkan di keluarga barunya.

Lebih fokus ke drama tentang bagiaman Duncan remaja 14 tahun memandang masalah di keluarga kecilnya, dibumbui  kisah cinta dan komedi, tidak ada adegan terbuang pecuma. Ow ya, soundtrack filmya bagus-bagus.

2.       Son of Rambow (2007)
Menonton film ini mengingatkan saya ketika zaman bocah mempunya dua orang teman dengan kpribadian mirip dan Ibu saya melarang berteman dengan salah satunya hanya karena mempunyai latar belakang berbeda
Bersetting di tahun 80,pada sebuah sekolah di Inggris. Seorang siswa baik-baik, polos yang punya imajinasi tinggi  dan jago menggambar ilustrasi benama Will Proudfoot(Bill Milner). Dia harus terlibat maslah dengan siswa nakal yang suka merekam film di bioskop yaitu Lee Carter (Will Poulter) karena tanpa sengaja memecahkan aquarium kaca di sekolah mereka. Hal tersebutlah yang membuat hubungan mereka kian dekat. Dirumah Lee, Will tanpa sengaja menonton film Rambow(ceritanya Will mengikuti jemaat yang melarang pengikutnya nonton tv). Karena terinspirasi setelah menonton film Rambow, Lee mendapatkan ide membuat film dengan judul “Son of Rambow” untuk diikut sertakan dalam lomba dengan naskah dan ilustrasi dari Will.


Problem klasik tentang pertemanan dapat kita temukan disini, ikatan sebuah keluarga yang kadang menjerat kreatifitas, menjauhkan yang seharusnya dekat hingga kita sadari apa yang kita miliki sekarang untuk kita jaga. Komedi yang pas, tidak ada materi romance, namun dengan menontn Son of Rambow membuat kita lebih menghargai hubungan keluarga dan pertemanan.


3.       Moorise Kingdom (2012)
Pagi itu si sebuah perkemahan pramuka yang dipimpin oleh Scout Master Ward (Edwar Norton) digemparkan dengan kaburnya serang anak pramuka Sam Shakusky(Jared Gilman). Dilain tempat keluarga Bishop mengalami hal yang sama, anak perempuan mereka Suzy Bishop (Kara Hayward) melarikan diri dari rumah. Acara kabur-kaburan yang  dilakukan 2 bocah labil 12 tahun ini Sam dan Suzy ternyata telah direncanakan 1 tahun yang lalu dan sukses membuat gempar seisi pulau.


Terdengar konyol memang ketika 2 orang mahluk akhil baligh ini kabur demi cinta. Diceritakn secara mnyenangkan dengan beberpa sentuhan komedi namun tidak lepas dari tema awal yang kalau difikir secara logika sangat aneh.  Konflik cinta dan keluarga yang mereka hadapi menentukan kamu berada di pihak siapa, orang dewasa? atau anak-anak?


4.       Ender’s Game (2013)
Akhir-akhir ini kita banyak menyaksikan beberapa film yang diadaptasi dari sebuah novel, terutama yang bertema young adult, begitupula dengan Enders Game. Bersetting di masa depan dan diluar angkasa pada saat itu bumi diserang pasukan alien bernama Formic, untungnya bumi berhasil diselamtkan. 50 tahun kemudian untuk berjaga-jaga agar kejadian balasan tidak terulang armada internasional menghimpun para anak-anak pintar di seluruh dunia (soalnya anak-anak mempunyai motorik dan intuisi yang lebih bagus dibandingkan orang dewasa) untuk ditempa  di camp pelatihan komandan luar angkasa hingga mereka siap melawan para alien. Ender Wiggin (Asa Butterfield) salah satu siswa terpilih yang nantinya akan menjadi komandan pasukan melawan para Formic.


Karakter Ender menjadi sorotan utama di film ini, bagaimana cara dia melewati ujian untuk menjadi seorang komandan/pemimpin. Tak ada kisah romantis maupun komedi, namun Ender’s Game menyajikan banyak nilai-nilai kepemimpinan yang patut kita contoh. Kekurangnannya sih, ya seperti film adaptasi novel lainnya(baca: pendalaman karakter) namun dapat tertutupi dengan efek CGI yang waahhh.  Saya gak suka baca novel, namun jika disuruh baca saya pilih Ender’s Game.



5.       Flipped (2010)
Saya rasa sebagian dari kita pernah merasakan “flipped”, yaitu perasaan terbalik kamu gak suka sama dia tapi di suka sama kamu. Beberapa waktu kemudian sekenario itu terbalik menjadi kamu suka sama dia tapi dia udah nggak. Yup, tema sederhana yang coba dituangkan melalui film yang bersetting tahun 1957. Bryce Loski (Callan McAuliffe) baru saja pindah rumah bersama keluarganya ketika baru memasuki kelas 2 SD. Dia bertetangga dengan keluarga Beker tepat di depan rumahnya.  Keluarga Beker mempunyai seoranng putrid, Juli Baker (Madeline Carrol) yang jatuh cinta pada Bryce sejak pandangan pertama dan mulai “mengejar” Bryce dari SD hingga SMP. Ceritnaypun mulai berkembang ketika mereka SMP.

Meskipun film ini bertema cinta monyet, namun tidak sepenuhnya berfokus pada adegan cinta-cintaan yang membosankan. Ada drama keluarganya antara keluarga Bryce yang mapan dengan keluarga Juli yang sederhana. Yang membuat Filpped unik(satusatunya) yaitu alur dan sudut pandang ceritanya yang diawali dengan sudut pandan Bryce dilanjtukan sudut pandan Juli, jadi jangan aneh ketika menonton film ini kalian menyaksikan ada adegan yang diulang. Pada akhirnya Flipped tentang menilai/menyukai seseorang itu tidak seperti menikmati rumput dalam lukisan landscape tapi harus menikmati semua elemen lukisan itu.  Sederhana, lucu,klasik, menarik, unik.



Segitu aja deh dulu, tunggu part 2-nya.
setiap orang memang punya genre berbeda-beda, tapi jangan ragu mencoba genre yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar