Pages

Sabtu, 09 Agustus 2014

5 Centimeters per Second

Apa yang ada dipikiran anda ketika mendengar kata jepang? Anime, samurai, dan teknologi, hmm  itu tiga kata yang terlintas dipikiran saya ketika mendengar kata jepang. Anime yang pertama bukan berarti saya penggemar anime, ya meskipun waktu kecil di hari minggu pagi waktu saya dihabiskan menonton anime(dulu manggilnya kartun) paforit di layar kaca. Sedangkan sekarang saya hanya mengikuti anime Naruto saja, saya bahkan tidak tahu mau harus move on kemana ketika Naruto tamat nanti. Dulu saya beranggapan bahwa anime adalah dunia anak-anak yang menyenangkan penuh pesan moral, nilai persahabatan yang kuat dan pantang menyerah menggapai cita-cita. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang saya tahu istilah Hentai *IYKWIM, dan memaksa saya merubah definisi anime tadi. -_-




Ketika jalan-jalan ke kaskus, ada thread yang menarik tentang film anime 5 Centimeters Per Second yang katanya mempunyai cinematography yang memukau hingga tiap scennya bisa kamu jadikan wallpaper. Cinematography adalah alasan saya ingin menonton film ini tanpa memperdulikan cerita yang “katanya” mengharu biru memaksa bendungan  air mata kamu jebol sampe tumpeh tumpeh. 

Tohno Takaki seorang siswa SD pindahan ke Tokyo, setahun berselang Shinohara Akari siswi pindahan di kelas yang sama dengan Tohno Takaki. Karena masih kecil dan sakit-sakitan mereka lebih suka menghabiskan waktu bermain di perpusatakaan daripada tempat bermain, hal itulah yang membuat hubungan mereka menjadi dekat. Setelah lulus SD mereka berkeinginan untuk masuk SMP yang sama, namun harapan kandas ketika orang tua Akari harus pindah kerja ke Tochigi dan sekolah di SMP yang berbeda. Meski begitu mereka tetap saling berkomunikasi lewat surat(belom ada hp gan, palagi pesbuk) hingga Takaki harus pindah sekolah dari Tokyo ke Kagoshima membuat jarak mereka kian jauh.

Kisah persahabatan masa kecil dan mulai tumbuh benih-benih cinta ketika dewasa merupakan tema yang terlalu sering kita saksikan di banyak film internasional maupun Indonesia. Tidak sedikit film dengan tema tadi berakhir di tempat sampah (baca: busuk). Premis yang sudah terlalu mainstream tampak segar ketika dipadukan dengan beberapa elemen yang membuat film 5 Centimeters per Second masuk ke jajaran film drama romantic yang musti ditonton. Dengan durasi  1 jam, 5 Centimeters Per Second dibagi dalam 3 chapter. Chapter 1 : The Chosen  Cherry Blossom menceritakan reuni Takaki dengan Akari setelah sekaian lama berpisah. Chapter 2 : Cosmonaut tentang kehidupan SMA Takaki setelah pindah dari Tokyo, ceritanya mengambil sudut pandang  orang pertama yaitu Kanae Sumida seorang gadis yang menaruh hati pada Takaki. Terakhir Chapter 3 menceritakan tentang kehidupan Takaki dan Akari ketika mereka dewasa.


Arti 5 Centimeters Per Second merupakan kecepatan kelopak bunga sakura yang gugur, metafora dari jarak(centemeter) dan waktu (second) yang memisah mereka, dialah yang menjadi tokoh antagonisnya. Menikmati 5 Centimeters Pers Second seperti menikmati hujan turun di pagi hari (bukan kehujanan, bedakan) begitu tenang, meskipun alurnya berjalan cepat namun tetap mampu menusuk emosi penonton. Dan jangan lupakan cinematographynya yang indah dan memukau, inilah salah satu elemen yang membuat film ini melekat diingatan penonton. Selama hidup saya menonton film anime maupun yang series, cinematography film inilah yang paling keren(jika ada yang lebih keren kasi tau ya). benar-benar mampu memaksmalkan elemen cinematography dan cerita yang klise menjadi sebuah karya unforgettable. Jangan lupakan ost endingnya "one more time, one more chance" yang menambah kekuatan 5 Centimeters per Second.



Berbicara sedikit tentang film jepang, menonton sebuah film adalah salah satu cara kita mengenal kubudayaan, gaya hidup, maupun sejarah negara lain. Begitu juga dengan film-film jepang, sedikit banyak saya mengetahui berbagai hal tentang jepang. hal inilah yang membuat saya memasukkan jepang ke daftar Negara yang saya nantikan film-filmnya setelah Holywoodnya Amerika. Namun ada satu kendala yang sangat mengganjal, yaitu subtitle Indonesia yang susah bangke didapat. 

Saya selalu bertanya mengapa Jepang tak segencar dan seambisius Hollywood dalam memproduksi film?? Padahal jepang mempunyai banyak bahan untuk diangkat menjadi sebuah film, tentang sejarah, mitos, legenda, dan jangan lupakan imajinasi tingkat tinggi melalui komik dan anime. Selain itu untuk proses editing teknologi jepang tak kalah hebat dengan Amerika. Tapi kenapa kok rasanya industry perfilmannya kayak jalan ditempat, apa memang mereka sudah tidak tertarik, promosinya kurang atau mungkin saya yang tidak tahu. 

Kita tentu mengenal beberapa film life in action semacam rurouni kenshin, death note, black butler. Film-film tersebut diproduksi oleh Hollywood, termasuk juga film 47 rounin yang terinspirasi dari legenda 47 rounin yang diceritakan turun temurun namun naskahnya diubah dan menyelipkan tokoh Kai seorang anak keturunan Inggris Jepang, tidak begitu sukses namun tak separah Dragon Ball. Apa ini semua karna jepang lebih memilih fokus dengan industry film JAV(Japan Astagfirulloh Video)*IYKWIM dengan keuntungan lebih menggiurkan  yang harga perkeping DVD mencapai Rp300.000-Rp400.000, bandingkan dengan harga DVD original film Box Office. Singkatnya keuntungan JAV lebih tinggi dengan produksi rendah daripada buat film dengan produksi tinggi tapi keuntungan rendah. Hmmm entahlah…..