Pages

Minggu, 06 Juli 2014

CHRONICLE

Enatah sejak kapan saya mulai suka menikmati nonton film, dan entah berapa film yang sudah saya tonton. Puncaknya ketika  saya dibelikan laptop dan sebuah modem 7.2 Mbps, Thank you mon :*, ditambah ketika saya mulai mengetahui istilah gretonger yang aplikasinya bertebaran di internet. Saya mulai aktif browsing  film di ganool, comot file torrent, blusukan di IMDB dan hampir semuanya file bajakan berdesakan di hardisk . but come on… sipa sih orang di Indonesia Nusantara ini yang semua isi komputer laptopnya legal, hahhh???. Tapi saya punya keinginan sederhana, suatu saat saya akan melangkahkan kaki ke sebuah gedung, orang-orang menyebutnya gedung  bioskop itung2 sebagai apresiasi kepada  para sineas yang filmnya saya download(daerah ane ngak ada bioskop). Kalau bisa filmnya om Steven Spilberg, atau Christopher Nollan, atau mungkin sang ahli ledakan Michael Bay.


Untuk kali ini saya membahas film yang saya tonton beberapa waktu yang lalu yang saya dapatkanketika keisengan saya blusukan di IMDB. Satu-satunya hal yang membuat saya tertarik ketika melihat ratingnya 7.1 yang mencapai menandakan bahwa Chronicle merupakan film yang berkualitas(meskipun selera orang berbeda-beda).  Eksekusi(baca:download) dan mulai menonton tentu saja tanpa ekspektasi yang tinggi.

Andrew Detmer (Dane DeHaan) seorang remaja antisocial  mempunyai kehidupan yang  kacau, ayah pemarah yang suka mabuk-mabukan, ibunya yang sakit parah hanya bisa berbaring di kamar dan Andrew sering menjadi korban bullying di sekolahnya.  Sepeupu Andrew,  Matt Garety (Alex Russell) teman terdekat Andrew mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada Andrew. Matt  sering berangkat bersama kesekolah bersama Andrew, itupun dilakukan karena mereka masih berhubungan keluarga. Pada sebuah perayaan pesta      Matt dan Steve (Michael B.Jordan) calon ketua OSIS menemukan sebuah lubang aneh dan mengajak Andrew untuk mendokumentasikan penemuan mereka itu dengan kamera yang selalu dibawa Andrew dari awal cerita. Lubang itu memancarkan suara aneh yang membuat mereka semakin penasaran ingin masuk. Di dalamnya mereka menemukan subuah kristal yang memancarkan energy memberi mereka kekuatan telekinesis(mampu menggerakan benda dengan fikiran).

Tiga orang remaja mempunyai kekuatan telekinesis membuat penonton beranggapan bahwa ini film super hero young adult. Hmmm bisa juga disebut demikian, namun dalam 84 menit tidak ada tokoh super villain dengan kekuatan mengerikan mengacak-ngacak kota yang disajikan. Konflik yang mulai berkembang justru ada dalam diri para tokohnya, mengingat mereka masih remaja dalam proses pencarian jati diri. Andrew dengan ayahnya yang kasar dan suka mabuk, Steve dengan orang tuanya yang sering bertengakar namun kehidupan sosialnya lebih baik, sedangkan Matt yang becita-cita ingin jadi polisi tidak mempunyai maslah berarti. Diawali alur yang lambat tentang keseharian Andrew, kemudian kehidupan tiga remaja setelah mereka mempunyai kekuatan telekinesis dan terakhir  timbulnya konflik yang terjalin mengalir secara konsisten hingga klimaks dengan tingkat ketegangan yang lebih tinggi. Tidak banyak tokoh yang terlibat, namun semua jajaran aktingnya mampu tampil dengan baik. Chamistri antar ketiga tokohnya terbilang bagus yang membuat film ini terasa sangat dekat dengan penonton.


Melihat Dane DeHaan saya jadi teringat dengan Leonardi Dicaprio muda di film Basketball Diary, ya meskipun Dane DeHaan jadi loser di Chronicle. Mereka mempunyai kharisma ketika memerankan tokoh dalam filmnya. Benar saja, Marc Webb memilih Dane DeHaan memerankan Green Goblin di project film The Amazing Spiderman 2.

Lantas apa yang menjadi nilai plus Chronicle? Tentu saja pada tenik pengambilan gambarnya, found footage atau mockumentary. Yaitu film fiksi yang dibuat seperti film dokumnter, potongan-potongan adegannya diambil dari kamera yang selalu dibawa Andrew, kamera Casey(Ashley Hinshaw) pacar Matt, handycam, cellphone bahkan kamren CCTV. Penonton seperti diajak berpetualang dan ikut merasakn momen-momen menegangkan, keseruan, keisengan, dan kejahilan dari tiga orang baru mempunyai kekuatan telekinesis. Menikmati film dengan konsep mockumentari memang sedkit mengganggu terutama dengan kameranya yang bergerak membuat mata harus ekstra keras menkmati tiap adegannya tapi tidak dengan Chronicle. Dari semua film dengan tema mockumentary yang pernah saya tonotn(tidak banyak sih) Chroniclelah yang paling enjoy dinikmati, tidak separah End Of Watch.

Bagi yang terbiasa menikmati film  Box Office super hero dan belum pernah menonton film mockumentary, Chronicle tampak seperti film amatir dengan porsi cerita yang minim, seperti dari mana aslanya Kristal yang membuat tiga orang remaja mempunyai kekuatan telekinesis. Tapi itu bukan menjadi sesuatu beban yang membuat Chronicle berkurang daya tariknya. Karena kita kembali ke konsep awal dengan teknik mockumentary mengambil sudut pandang kamera tadi, mampu menggiring penonton merasakan pertualangan tiga tokohnya dan meraskan emosi mereka seolah penonton ikut terlibat di dalam film seperti ketika mereka belajar terbang, memorable banget. Saya yang awalnya skeptis dengan format film mockumnetary, kini semakin penasaran ingin menikmati film dengan format serupa.

Josh Trank adalah orang dibalik kesuksesan Chronicle dengan buject rendah mendatangkan untung yang berlipat ganda(kalo ngak salah 15x lipat) menjadikan Chronicle sebagai salah satu film yang wajib ditonton. Tidak seperti film superhero dengan alur itu itu saja, manusia biasa>punya kekuatan>muculnya musuh>menyelamatkan dunia>end. Chronicle mengenai apa yang terjadi jika tiga orang remaja dengan watak berbeda mempunyai kekuatan telekinesis dengan eksekusi cerita yang tampak real.

0 komentar:

Posting Komentar